Sunday, October 28, 2012

askep dibetes militus



\
DIABETES MELITUS
A.    DEFINISI
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau Hiperglikemia.
                                                                                    ( Brunner & Suddarth, 2001)
Diabetes Melitus atau kencing manis adalah keadaan berlebihannya kadar gula dalam darah (Hiperglikemia) kronik disertai dengan berbagai kelainan metabolic akibat gangguan hormonal dalam tubuh.
                                                                                 ( Dr. Aris Wibudi Sp.PD.2004)

B.     ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Diabetes melitus Tipe I, ditandai oleh paenghancuran sel-sel beta pancreas akibat karena :
a.       Faktor genetik
b.      Faktor Imunologik
c.       Faktor Lingkungan (misal; Infeksi virus) mendestruksi sel beta.
Diabetes Melitus Tipe II akibat karena resistensi insulin dan gangguan ekskresi insulin dan penyebab belum diketahui. Faktor genetic memegang peranan penting dalam terjadinya proses resistensi insulin.
Faktor resiko :
a.       Usia > 65 tahun
b.      Obesitas
c.       Riwayat keluarga
d.      Kelompok Etnik

Tipe Diabetes Melitus
1.      Tipe I : Diabetes Melitus tergantung Insulin 
 Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)
2.      Tipe II: Diabetes Melitus Tidak tergantung Insulin
(Non – Insulin Dependent) yang berkaitan dengan keadaan sindrom lainnya (NIDDM)
3.      Diabetes Melitus Gestasional (GDM)

C.     PATOFISIOLOGI
Diabetes Melitus tipe I
      Pada Diabetes ini terdapat ketidak mampuan untuk menghasilakan insulin karena sel-sel beta pancreas telah dihancurkan oleh proses-proses auto imun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak teratur oleh hati diasamping itu glukosa tersebut muncul berasal dari makan yang tidak dapat disimpan di dalam hati meskipun tetap berada di dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia.
      Jika konsentrasi darah yang mengandung gukosa terlalu tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa tersaring akibatnya glukosa muncul dalam urine. Sekresi ini akan disertai dengan pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan deuresis osmotic, sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (polyurine) dan rasa haus (polydipsia).
      Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polyfagia) akibat menurunnya simpanan kalori.
Diabetes Melitus Tipe II
      Pada Diabetes Melitus tipe II terdapat dua masalah yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus paa sel, sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut dan terjadi suatu reaksi metabolisme di dalam sel dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimuli pengambilan glukosa dijaringan.
      Pada penderita Diabetes yang yang berusia 30 tahun dan obesitas akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat selama bertahun-tahun dan progresif maka awitan Diabetes Tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi.

D.    MANIFESTASI KLINIK
1.      Poliuri
2.      Polidipsi
3.      Polifagi
4.      Kelelahan
5.      Sering pusing
6.      Iritabilitas
7.      Luka sulit sembuh
8.      Pandangan kabur
9.      Sering kesemutan (rasa baal) pada ekstremitas
10.  Kehilangan berat badan

Kriteria diagnostik WHO untuk DM pada orang dewasa yang tidak hamil pada sedikitnya dua pemeriksaan:
  1. Glukosa plasma (sewaktu atau radum > 200 mg/dl) 11,1 mmol/L
  2. Glukosa plasma puasa/nuchter > 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
  3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (PP) > 200 mg/dl (11,1 mmol/L
(World Health Organization < Diabetes Mellitus < Report of WHO study group.tech series no 727.1985)

E. PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi diabetes adalah untuk mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadinya hipogikemia dan gangguan pada pola aktivitas klien.
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1.      diet
2.      latihan
3.      pemantauan
4.      terapi jika diperlukan
5.      pendidikan
Penanganan di sepanjang perjalanan penyakit diabetik akan bervariasi karna terjadinya perubahan pada gaya hidup keadaan fisik dan mental penderitanya disamping karna berbagai kemajuan dalam metode terpi yang dihasilkan dari riset.
Menurut Dr. Aris Wibudi Sp.Pd dalam buku “Sehat Di Usia Lanjut”
para dibetik tetap bisa nyaman dan panjang umur karna penykit ini bisa dikendalikan empat serangkaian pengolaan diabetes yang disepakati oleh para ahli adalah edukasi, perencanaan makan. Latihan jasmani, intervensi medis. Edukasi penyuluhan merupakan rangkaian usaha diabetes untuk memahami penyakitnya, sehingga tahu penanganannya secara tepat.
Penatalaksanaan diabetes meliputi pengkajian yang konstandan
modifikasi rencana penanganan oleh para profisional kesehatan sampai penyesuaian terapi oleh pasien setiap hari.
Meskipun tim kesehatan akan mengarahkan penanganan tersebut,namun pasien sendirilah yang harus bertanggung jawab dalam pelaksanaan terapi yang kompleks itu setiap harinya. Karna alasan ini pendidikan pasien dan keluarga dipandang sebagaikomponen yang penting didalam menangani diabetes, sama pentingnya dengan komponen lain pada terapi diabetes.

PERAWATAN KAKI (FOOT CARE)

Prevention of foot ulcers individuals with diabetes mellitus
(Pencegahan luka pada kaki pada klien diabetes mellitus)
-          Lakukan pemeriksaan kaki setiap hari
-          Jaga hyegiene kaki setiap hari dengan menggunakan air sabun hangat (bukan panas) untuk mencuci kaki kemudian dikeringkan.
-          Dengan lemah lembut berikan cream pada kaki dan di sela-sela jari
-          Potong kuku dan jangan biarkan panjang
-          Pakai sepatu dan alas kaki setiap akan pergi
-          Lepaskan sepatu secara perlahan-lahan
-          Tidak memakai kaus kaki atau sepatu ketat. Latih secara teratur dan pelihara berat badan ideal
-          Hindari merokok karena akan mengganggu peredaran darah kaki
-          Lakukan segera intervensi terhadap masalah (e.g., tenderness, merah, sweeling)
(Lenekenotte, Annette G, 2000)

Perawatan kaki pada pasien Diabetes Mellitus
Inspeksi
-          Pada kaki bagi penderita diabetes perlu diperiksa atau dipantau seharian atau tiap kali untuk menghindari beberapa trauma minor termasuk di celah-celah jari
-          Membuat daftar rencana mendata atau mengunjungi utuk mengadakan perawatan kesehatan bagi penderita diabetes pada kaki, harus selalu diperiksa setiap mengunjungi
-          Dengan segera laporkan penderita diabetes jika terdapat luka kaki sehingga dapat dilakukan perawatan segera
Alas kaki
-          Hindari berjalan tanpa menggunakan alas kaki
-          Memakai pakaian yang nyaman, hindari sepatu yang sempit, periksa sepatu setiap hari sebelum digunakan
-          Hindari menggunakan celana yang ketat
-          Gantilah sepatu baru secara bertahap
-          Memakai sepatu yang terbuat dari bahan-bahan yang dapat bernafas untuk kaki (nyaman untuk kaki)
Perwatan kaki
-          Setiap hari cuci kaki dengan menggunakan sabun yang lembut
-          Periksa temperature air siku sebelum mandi
-          Hindari menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan jamur dan penyakit kulit lainnya.
-          Potong kuku jari berikut siku-siku pada kuku kaki yang kasar dengan lembut
-          Hindari kaki terkena air panas, bantal pemanas
-          Gunakan pelembab yang lembut untuk kulit kering
-          Pakai kaos kaki yang berkualitas baik
-          Hindari menyilangkan kaki ketika duduk
-          Latihlah kaki untuk meningkatkan peredaran darah
-          Hindari berjalan tanpa menggunakan alas kaki

PENCEGAHAN KOMPLIKASI MACROVASKULER PADA KLIEN
 DIABETES MELLITUS

1.      Pencegahan primer
-          Menormalkan berat badan atau mengurangi obesitas
-          Latihan atau olahraga
-          Tidak merokok
2. Pencegahan sekunder
-          Menormalkan tingkat lemak
-          Mendorong untuk mengenali dan mencegah hyperglycemia dengan latihan, makanan dan obat-obatan
-          Penanganan agreseve dan hipertensi, termasuk cek tekanan darah secara teratur
-          Gambarkan resiko tinggi klien (hal tersebut berhubungan dengan riwayat diabetes keluarga)
3.  Pencegahan tersier
-          Control nyeri dada
-          Tangani penyakit pembuluh darah
-          Control factor resiko penyakit macrovaskuler
-          Tekankan pemenuhan pengobatan dan dilaksanakan
-          Kerjasama dengan klien
(Back-Matassarin, 1997)




BAB III
PENUTUP

Klien lanjut usia dengan Diabetes Mellitus memiliki keadaan yang sangat rentan terhadap perubahan-perubahan akibat tindakan pengobatan atau pemberian insulin, diit serta exercise yang diberikan. Untuk itu perawat harus mengevaluasi keefektifan dari planning dan implementasi yang diberikan kepada lansia sehingga  outcome yang diinginkan dapat tercapai. Misalnya outcome nutrisi pada lansia adalah lansia dapat memilih makanan secra konsisten dengan rencana makanan yang telah ditetapkan/diresepkan. Pencapaian tujuan untuk mencapai perubahan berat badan diukur denganm grafik berat badan, demikian juga exercise dan pemberian pengobatan (insulin).
Prinsip dari manajemen diabetes adalah klien dapat mengontrol diri. Aktifitas self care seperti inspeksi kaki setiap hari damn memberikan support untuk melakukan perawatan kaki dengan pendekatan self-carei. Perawat dapat membantu lansia mengevaluasi keefektifan aktifitas sel-care  dengan pemeriksaan secara langsung dan melalui teknik interview.
Keefektifan strategi manajemen diabetes yang digunakan oleh klien lansia haarus diperkuat secara positif oleh perawat. Misalnya, ketika lansia melakukan perawatan kaki atau teknik injeksi insulin secara benar, perawat harus memberikan penguatan atau pujian kepada klien, dan jika terdapat kesalahan maka perawat harus segera mengajarkan cara yang benar berdasar pengetahuan dan ketrampilan. Jika klien tidak mentaati strategi meanajemen yang telah diajarkan, hal ini membutuhkan pangkajian ulang /reevaluation, sehingga klien dapat melakukannya secara benar. Hal ini mungkin saja disebabkan karena lansia memiliki masalah financial atau  support system.
Dokumentasi pengkajian, meliputi respon terhadap tindakan, strategi yang diajarkan dan kemampuan klien untuk melakukan self-care  dan diet, sama dengan intervensi keperawatan lainnya adalah komponen essensial dalam perawatan lansia dengan diabetes.
(Lueckenotte, Annette G, 2000)

No comments:

Post a Comment